“Warna-Warni Nusantara di NEGSAGO: Rayakan Hari Kartini dengan Aksi dan Prestasi.”

GODEAN – Senin pagi, 27 April 2026, wajah SMP Negeri 1 Godean berubah menjadi kanvas raksasa yang penuh warna. Tak ada seragam putih-biru yang biasanya mendominasi. Sebagai gantinya, lapangan upacara dipenuhi dengan anggunnya kebaya, gagahnya beskap, hingga lilitan kain tenun dari berbagai penjuru Nusantara.

Pagi itu bukan sekadar upacara rutin. Di bawah langit April, seluruh warga sekolah sedang merayakan “nyawa” perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam balutan busana adat Indonesia.

Kedisiplinan di Balik Balutan Tradisi

Di tengah kerumunan yang berwarna-warni, para siswa dari kelas 8D berdiri tegak dengan penuh tanggung jawab. Meski mengenakan atribut yang mungkin tak senyaman seragam harian, mereka sukses menjalankan tugas sebagai petugas upacara dengan sangat rapi dan khidmat.

Ibu Milda ‘Ulya Rahmah, M.Pd., yang pagi itu bertindak sebagai Pembina Upacara, menatap barisan siswanya dengan bangga. Dalam pesannya, beliau mengingatkan bahwa esensi Hari Kartini jauh melampaui riasan wajah atau konde yang dipakai.

“Kartini adalah tentang membuka jalan. Hari ini, kalian memakai baju adat sebagai bentuk cinta budaya, tapi besok, kalian harus memakai ilmu kalian untuk membangun bangsa. Itulah emansipasi yang sesungguhnya,” tutur Ibu Milda lembut namun tegas.

Panggung Keberanian dan Suara Generasi Muda

Kemeriahan memuncak saat sepuluh siswa terpilih dengan kostum paling autentik dan memukau dipanggil ke depan. Bukan sekadar menerima hadiah, mereka ditantang untuk melintasi lapangan dalam sebuah fashion show dadakan. Tawa dan tepuk tangan riuh pecah saat kawan-kawan mereka berpose layaknya model profesional di atas “catwalk” aspal sekolah.

Namun, momen yang paling menyentuh adalah saat mikrofon berpindah tangan. Ke-10 siswa ini diminta berbagi isi kepala mereka tentang emansipasi. Suasana yang tadinya riuh mendadak tenang saat salah satu siswa berkata:

“Bagi saya, Kartini itu seperti ibu guru atau ibu saya di rumah. Beliau membuktikan kalau perempuan bisa jadi apa saja. Kami, anak perempuan di SMPN 1 Godean, tidak perlu takut bermimpi tinggi karena pintunya sudah dibuka sejak dulu oleh Ibu Kartini.”

Senin itu, SMPN 1 Godean tidak hanya merayakan sejarah, tapi sedang memupuk harapan. Bahwa di balik pakaian adat yang indah, ada pemikiran-pemikiran tajam dan semangat gotong royong yang akan membawa mereka menjemput masa depan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *